Wednesday, April 15, 2009

Politik, Politikus dan Parlemen KITA

POLITIKUS dan PARLEMEN SEJATI

Dalam sejarah perkembangan berbangsa dan bernegara ini, sudah tertoreh dalam lembaran sejarah, bahwa di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia, pernah mengalami masa dimana sesama anak bangsa di “adu domba” untuk kepentingan para penjajah. Menurut sejarah modern, dan yang sering kita dengar, bahwa negara ini pernah di jajah oleh negara asing semisal Portugis, Belanda, Jepang dan lainnya, minimal kalau dihitung dengan rentang waktu adalah 3,5 abad (tiga ratus lima puluh tahun). Waktu yang tidak sebentar dalam rentang masa kehidupan generasi manusia. Suatu yang sangat ironi bahwa, para penjajah kalau dilihat secara geografis, tidak memiliki luas wilayah lebih besar dari sepertiga luas negara Indonesia.

Dari fakta sejarah tersebut, apa yang bisa kita ambil pelajaran untuk memajukan bangsa dan negara tercinta ini? Karena penjajahan akan selalu terus dihidupkan. Perkembangan modus penjajahan di era modern ini sangat halus, tidak seperti jaman dahulu, dimana penjajahan dilakukan dengan melakukan pendudukan secara fisik di suatu wilayah geografis tertentu, dan rakyatnya dijadikan budak untuk memuaskan nafsu sang penjajah. Akan tetapi penjajahan modern ini sudah mulai dengan dibuatkannnya aturan-aturan gaya baru (kode etik) yang mengatas namakan masyarakat dunia, dengan pembuatan standar-standar ganda untuk kepentingan negara-negara neokolonialis. Coba kita rasakan, isu tentang HAM, Demokratisasi, isu lingkungan, standar mutu, dan masih ada banyak-banyak standar dengan aneka macam warnanya. Yang agenda utamanya jelas, bahwa mereka tetap ingin melakukan penjajahan kepada negara-negara yang secara de fakto dulu pernah mereka jajah secara fisik.

Sebagai negara yang “merdeka”, kita harus benar-benar menjaga anugerah ini. Jangan sampai terlena dengan kamuflase yang dibuat oleh neokolonialis. Makanya kita harus menjadi negara yang kuat, negara yang mandiri dari segenap aspek kehidupan bernegara. Negara yang memiliki relasi yang luas, dimana hubungan antar negara ini dilandasi oleh semangat kesetaraan dan saling pengertian, bukannya hubungan yang saling menelikung apabila ada kesempatan. Oleh karenanya, kita harus merombak dan sekaligus membuat tata aturan yang membuat negara ini benar-benar merdeka. Merdeka yang sesungguhnya, bukan merdeka yang semu. Oleh karenanya, kita harus menguatkan parlemen kita, karena dari sinilah pangkal ujung permasalahan itu bermuara. Karena dari lembaga inilah, landasan hukum atau aturan main untuk menata kehidupan bernegara ini dimulai.

Kita harus membersihkan parlemen kita ini dari para politikus-politikus busuk, yang hanya mementingkan diri pribadi atau kelompoknya saja, dengan mengesampingkan kejayaan dan kemakmuran negara tercinta ini. Jangan mau dihasut, dan jangan mau lagi diadu domba. Karena seperti yang dipaparkan di atas, bahwa salah satu ciri penjajahan di era modern adalah dengan melakukan politik adu domba, dan sekarang kalau kita lihat dengan seksama bahwa kenyataan dan kemungkinan untuk di adudomba begitu terbuka. Coba lihat para politikus kita, mereka hanya mementingkan kepentingan diri dan kelompoknya saja, saling menjegal untuk menjadi penguasa dengan segala cara. Dan yang tak kalah mengerikan, bahwa mereka juga menggunakan bantuan (apakah di sengaja atau tidak) negara-negara asing yang tentunya merekalah yang akan menjadi kolonialis-kolonialis baru di jaman modern ini.

Dengan memlih para politikus yang teruji rasa nasionalismenya, harapan kita bersama bahwa produk perundang-undangan yang dibuat akan menjadikan negara ini merdeka dan mencapai puncak kejayaannya. Tidak ada lagi produk perundang-undangan yang menciptakan penjajahan dengan modus yang baru, semisal menguasai sumber daya alam yang melimpah oleh pihak asing (neokolonialis) dan hanya membagi dengan proporsi yang sangat-sangat kecil untuk negara kita. Tidak hanya produk perundang-undangan tentang penguasaan sumber daya alam, tata kelola sumber daya manusia dan semua hal yang menyangkut tata kelola berbangsa dan bernegara ini juga harus di perhatikan, jadi disini bahwa harapan kita akan terciptanya produk perundang-undangan yang memihak kepada kepentingan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia adalah sebuah kebutuhan, dan tentunya hal ini bisa tercapai apabila parlemen kita diisi oleh orang-orang yang memiliki integritas yang tinggi dan memiliki semangat nasionalisme, demi kejayaan negara tercinta ini. Indonesia yang merdeka adalah tujuan kita bersama. Mari kita awasi pengelolaan negara ini, dan kita tetap meletakkan kepentingan berbangsa dan bernegara ini diatas kepentingan pribadi atau kelompok kita. Jangan kita gadaikan bangsa ini dengan nilai yang murahan dengan kekuasaan yang semu. Hiduplah bangsaku, merdekalah negeriku, kejayaan dan kemakmuran menyertaimu... Indonesia.

Indonesia Raya adalah sebuah cita-cita luhur dan sebuah keniscayaan dalam hidup ini.


Pemuda dan Masa Depan Bangsa

MASA DEPAN BANGSA BISA DILIHAT DARI PEMUDANYA SEKARANG

“Beri aku sepuluh pemuda, maka aku merdekakan negeri ini dari para penjajah” kata Soekarno dan “Bapa di surga, beri hambamu ini 12 Murid, maka akan aku selamatkan manusia dari derita dan kehinaan” kata Yesus Kristus.

Kalimat yang sangat luar biasa, yang dapat menginspirasi diri ini untuk laku prihatin membuat perubahan-perubahan yang sangat mendasar dalam kehidupan ini. Perlu di camkan, bahwa yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan yang sangat mendasar didunia ini tidak memerlukan banyak orang, hanya segelintir orang yang tentunya dari golongan pemuda. Ada entry point, yang bisa didiskusikan disini yakni beberapa orang dan pemuda.

Segelintir manusia, yang tahu akan keadaan sekarang, yang memahami bahwa kondisi saat ini bila dibiarkan terus menerus akan berdampak buruk kedepanlah yang bisa melakukan perubahan yang radikal untuk tatanan masyarakat yang lebih baik. Disini diperlukan wahana untuk saling melakukan pengembangan diskursus atau wacana, karena dari diskusi awal inilah saling memahami dan mendukung gerakan akan terjadi dengan sendirinya. Segelintir orang ini perlu melakukan kajian kajian rutin yang mendasar untuk memformulasikan pola perubahan apa yang dibutuhkan dimasyarakat saat ini . Oleh karenannya, bisa kita tengok dalam sejarah perkembangan peradaban, bahwa dunia ini harus berterima kasih kepada orang-orang yang “nyleneh” yang tentunya jumlahnya sedikit, yang mana mereka mau untuk menjadi mainstream bahkan dengan menjadi martir untuk perubahan ini. Makan perlu digaris bawahi, bahwa pertemuan-pertemuan rutin yang dilakukan oleh “manusia-manusia nyleneh” harus perlu dipupuk. Agar kehidupan ini menjadi lebih dinamis dan tentunya akan membawa pada perubahan yang memang kita inginkan.

Kedua adalah pemuda, pemuda adalah harapan semesta, tentunya disini definisi pemuda tidak hanya dilihat dari sudut pandang rentang usia, namun pemuda disini adalah sosok manusia yang memiliki semangat yang luar biasa untuk melakukan upaya-upaya perubahan bagi masyarakatnya. Ciri yang sangat mudah kita temui dari sosok pemuda adalah, sikap optimismenya. Hal ini sangat berbeda dengan orang-orang tua, pemuda masih memiliki waktu untuk bisa mewujudkan cita-cita yang ada dalam benaknya. Masih ada rentang waktu untuk mewujudkan program tersebut. Hal ini sangat berbeda dengan para golongan tua yang sudah tidak memiliki kesempatan waktu dan fisik yang prima untuk mewujudkan cita-citanya, makanya kecenderungan yang ada pada golongan tua adalah bersikap pragmatis dalam menghadapi kenyataan hidup ini. Bukannya untuk berani melakukan perubahan akan tetapi lebih memilih untuk bersikap nyaman dalam memandang kehidupan ini. Akan tetapi yang perlu digaris bawahi, bahwa sebenarnya pemuda disini adalah konotasi, sebuah perumpamaan yang di lekatkan kepada semua orang, siapapun dia yang penting memiliki semangat optimis, progresif untuk melakukan perubahan, dan memberikan warna yang berbeda dalam kehidupan ini. Banggalah menjadi sosok minoritas (sedikit), yang memiliki sifat para pemuda idealis.


Laku Diri dalam Membentuk Integritas

INTEGRITAS DIRI JANGAN DIPERTARUHKAN

Semua orang adalah pemimpin, itu kata-kata bijak yang sering kita dengar apabila membahas pemasalahan individu ataupun organisasi. Maksud dari ungkapan ini “kemungkinan” dikarenakan peran dan fungsi yang harus di emban oleh seseorang dimanapun dia berada, baik pada ranah privat maupun publik. Tak heran, apabila permasalah integritas seseorang sebagai pribadi maupun sosok sosial tidak dapat dilepaskan dari kemampuan seseorang untuk bisa membawa diri dimanapun ia berada. Istilah yang sering kita dengar di masyarakat Jawa ya “empan papan ?”. Kita wajib tahu dan sadar akan semua yang akan kita kerjakan, sebagai misal kalau mau berangkat ke sekolah ya di niati untuk belajar, mencari ilmu pengetahuan sebanyak mungkin dengan harapan kelak dengan ilmu yang kita dapati dari sekolah, kedepannya kehidupan kita akan lebih bermakna dan berarti, karena kita bisa memberikan banyak warna positif dalam kehidupan ini. Bukannya berangkat ke sekolah dengan tujuan mau berantem atau mau tawuran dengan sekolah lainnya. Begitu juga kalau kita punya niatan berangkat kerja (bagi yang sudah bekerja), ya komitmen untuk melakukan aktivitas kerja di dalam kantor atau tempat kerja kita. Jangan malah bermalas-malasan di kantor, atau malah tidur-tiduran bahkan lebih parah lagi tidur di tempat kerja. Wah kacau kalau ini terjadi. Bukan hanya hal ini berpengaruh pada dia pribadi yang memiliki performance atau kinerja yang buruk nan rendah, tentunya hal ini juga mempengaruhi kinerja teman-teman dikantor juga. Oleh karenannya, apabila memang kita tidak bisa memberikan yang terbaik untuk organisasi mendingan mundur atau kalaupun baru dalam keadaan kurang fit, ya mendingan minta istirahat di rumah atau di tempat-tempat pemulihan kesehatan.

Terus pertanyaan selanjutnya, apa kaitannya dengan integritas?

Ya jelas, bagi orang-orang yang tidak bisa memberikan yang positif bagi organisasinya, apalagi dalam kondisi yang serba sulit kok malah “nggondeli” tentunya hal ini akan membawa penilaian yang tidak baik dari teman-teman yang lainnya. Dan tentunya, hal ini akan membawa citra yang buruk bagi orang yang bersangkutan. Tak kalah estrimnya, maka integritas dia sebagai seseorang (apakah sebagai pekerja, atau yang lainnya) akan rendah. Tidak bisa dijadikan contoh apalagi suri tauladan yang baik. Semoga ini bisa menjadikan renungan bagi kita semua, semoga dalam kehidupan ini, kita bisa memberikan yang terbaik dimanapun kita berada. Terima kasih.

Tuesday, March 31, 2009

SEGALA SESUATU TERGANTUNG USAHANYA

Ada fabel yang menarik ceritanya dan bisa kita jadikan pelajaran dalam menapaki kehidupan ini ketika kita berkarya dimanapun berada:

Ada dua ekor Macan sejenis Chetah yang terkenal kencang larinya, sedang bercengkrama dengan temannya, terkait dengan mangsa “si Kijang” yang berada di tanah lapang tepat di depan mereka. Chetah A bertanya kepada Chitah B, “mampukah kamu menangkap Kijang tersebut?” Dengan yakin dan sombongnya Chitah B menjawab “pasti bisa, tidak perlu waktu lama untuk menangkapnya!!” Setelah menjawab dengan yakin, Chitah B langsung berlari mengejar Kijang yang ada di depannya. Mengetahui bahwa dia dikejar Chitah, Kijang lari dengan penuh semangat dan mengeluarkan semua potensi yang dia punyai. Setelah melakukan pengejaran yang cukup melelahkan, akhirnya Chitah menyerah, dia tidak berhasil menangkap Kijang buruannya tadi. Dengan lemas, dia mendatangi temannya tadi “Chitah A”, dia berkata; “wah, aku gagal menangkap Kijang tadi, dia larinya kencang sekali”. Chitah A lalu menjawab komentar Chitah B tersebut, “larimu bukannya tidak kencang, semua makhluk tahu, bahwa Chitah larinya lebih kencang daripada Kijang. Yang jadi permasalahannya tadi, kamu tadi tidak mengeluarkan seluruh potensi yang engkau miliki, kamu hanya memamerkan gaya larimu saja kepadaku. Hal ini sangat berbeda dengan si Kijang, ia lari All Out, dia mengeluarkan semua potensi yang dia miliki, karena dia tahu, kalau larinya tidak lebih kencang daripada larimu, maka dia akan MATI”.

Dari Fabel tersebut, sebenarnya kita bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga dalam menapaki kehidupan kita. Bahwa segala sesuatu yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan tidak nengenal lelah atau istilah hiperboliknya “dilakukan dengan berdarah-darah” pasti akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Dimanapun kita berada, dimanapun kita berkarya, pasti akan menciptakan sesuatu yang luar biasa. Dan tentunya, ini sesuai dengan cita-cita kita. Semoga bermanfaat.

Thursday, March 19, 2009

KEADILAN TUHAN

Ada cerita yang menarik, yang bisa kita jadikan inspirasi dan mungkin lebih tepatnya adalah ibroh (pelajaran) dari jaman Nabiullah Musa AS. Pada saat itu, beliau di tanyai oleh umatnya terkait dengan keadilan Allah di muka bumi ini? Tanpa harus menunggu hingga di alam akhirat.

_________________________

Pada waktu itu, ada kisah atau berita yang sampai ketelingan penanya dan juga Nabiullah Musa, terkait dengan kejadian pembunuhan yang dilakukan oleh pemuda terhadap lelaki tua yang tidak tahu permasalahan apa-apa. Cerita singkatnya adalah sebagaimana berikut, pada suatu waktu pemuda baru saja melakukan perjalanan yang panjang melintasi padang gurun yang panas, ditengah perjalanan, dia melihat ada oase di tengah-tengah padang gurun tersebut. Oase itu dikelilingi oleh pohon-pohon yang rindang, karena kelelahan dari perjalanan yang jauh, akhirnya si pemuda tersebut ketiduran, selang beberapa jam, dia terbangun dan teringat bahwa perjalanan masih jauh dan dia harus segera ketemu dengan ibunya yang lagi sakit keras.

Dengan tergesa-gesa ia meninggalkan oase tersebut dan dia lupa bahwa barang yang ia bawa ketinggalan.


Selang beberapa jam datang penggembala untuk mampir ke oase tersebut untuk beristirahat, alangkah terkejutnya dia melihat ada bungkusan yang tertinggal di bawah pohon yang rindang tersebut, akhirnya ia mengambil bungkusan tersebut dan segera untuk melihatnya. Ia terkejut ketika mengetahui bahwa bungkusan tadi adalah berisi emas dan permata yang begitu banyak. Karena melihat sekelilingnya yang sepi dan tidak ada tanda-tanda ada orang yang memilikinya akhirnya ia menganggap bahwa barang ini adalah barang pemberian dari Tuhan untuk merubah nasibnya yang selalu miskin. Bergegaslah dia untuk pulang kerumah dan menyampaikan kabar baik ini kepada ibunya yang tua renta.


Pada tempat yang sama , di oase tersebut. Selang beberapa waktu, datanglah seorang tua yang renta dari perjalanan dan mampir ke tempat tersebut untuk mengambl air minum secukupnya dan beristrirahat, untuk melepas lelah. Pada saat yang bersamaan, datanglah pemuda pertama dengan wajah yang pucat dan kebingungan untuk mencari barangnya yang tadi ketinggalan di tempat tersebut. Dia mondar-mandir kesana kemari untuk melihat apakah barangnya masih ada di tempat tersebut. Alangkah marahnya dia ketika melihat bahwa barngnya tidak ada di tempat tersebut lagi, dan dia hanya menemukan orang tua renta yang asik tiduran dibawah pohon-pohon yang rindang.

Tanpa banyak kata dan ewoh pakewuh, pemuda ini langsung menanyakan kepada kakek tersebut perihal barangnya yang ketinggalan di tempat itu. Dengan terus terang, si kakek memberikan jawaban bahwa ia tidak tahu menahu terkait dengan barang yang pemuda itu tanyakan, pemuda masih tidak peduli. Dia sampai mengancam akan membunuh kakek tersebut apabila dia tidak memberikan barang tersebut kepadanya. Akhirnya pemuda tersebut membunuh kakek tadi, yang tidak tahu menahu terkait dengan keberadaan barang si pemuda tadi.

_____________________________

Kisah inilah yang jadi bahan pertanyaan umat Nabi Musa terkait dengan keadilan Tuhan dimuka bumi.

Nabiullah Musa berkeyakinan bahwa Tuhan akan selalu adil kepada umat manuasia, dimanapun tempatnya baik didunia maupun di akhirat.

Muas berkata kepada umatnya bahwa, beberapa waktu yang dulu (bisa dikatakan masa lalu), di daerah tersebut, ada petani kaya raya yang suka bersedekah, pada suatu waktu, petani kaya tersebut dibunuh oleh dua kawanan bandit. Dan bandit tersebut merebut semua harta yang dimiliki oleh petani kaya yang suka bersedekah ini. Setelah merebut harta sang petani kaya tersebut, dan sesuai dengn kesepakatan yang dibuat diawal, si bandit segera untuk membagi dua hasil rampokan tersebut. Karena sifat tamak dari seorang bandit dan karena merasa tidak puas dengan bagian yang dia peroleh, akhirnya si bandit tersebut, membunuh kawannya sendiri dan menguasai semua barang hasil rompokan mereka berdua.


Nabi Musa bertanya kepada umatnya, tahukah kamu siapa bandit yang membunuh kawannya itu? Musa berkata bahwa kakek tadi yang dibunuh oleh pemuda itulah bandit yang membunuh kawannya tadi, selanjutnya musa berkata bahwa, pemuda tadi adalah anaknya bandit yang dibunuh oleh kakek tadi. Sedangkan pemuda gembala yang memperoleh bungkusan tadi adalah anaknya petani kaya raya yang suka bersedekah.


Dari cerita ini, nabi Musa hanya igin menguatkan iman umatnya, bahwa keadilan tuhan itu ada dan pasti ada, tidak hanya di alam akhirat tetapi juga dialam dunia ini.


Semoga bisa menjadi ibroh atau pelajaran bagi kita semua. Dan kita tetap berkeyakinan bahwa Allah SWT akan selalu adil untuk semua amalan yang kita kerjakan....... (dari berbagai sumber cerita)

PENDIDIKAN YANG MEMANDIRIKAN

Semua makhluk hidup pasti secara alamiah di ciptakan Tuhan secara mandiri, dalam semua hal. Cobalah lihat saudara-saudari kita makhluk Tuhan yang lainnya apakah itu binatang maupun tanaman. Mereka semua diciptakan dalam keadaan yang mandiri karena dalam kehidupan yang dibutuhkan oleh makhluk Tuhan adalah mandiri untuk melangsungkan hidup dan berjuang untuuk tetap hidup dalam kondisi apapun.

Oleh karenanya, makhluk hidup yang namanya manusia menciptakan sistem pendidikan yang tujuannya adalah untuk mendidik manusia untuk siap dan selalu mandiri dalam menghadapi tantangan kehidupan. Sistem pendidikan yang baik adalah sistem pendidikan yang membebaskan peserta didiknya dari segala hal yang membuatnya dia terikat, dia harus bebas dan benar-benar merdeka.


Berbicara soal pendidikan, di bangsa dan negara Indonesia sendiri di bentuklah Departemen Pendidikan Nasional; suatu departemen ditingkat pemerintahan pusat negara ini untuk menjalankna peran sebagai institusi resmi yang bertanggung jawab terhadap kebutuhan pendidikan di negara ini. Oleh karenanya, dunia pendidikan yang lebih lazimnya disebut sekolahan di negara ini mulai dibentuk ditingkat dasar sampai dengan Perguruan tinggi, harapan dibentuknya lembaga pendidikan ini adalah kembali kepada fungsi awal diadakannya lembaga ini yakni, untuk menciptakan manusia-manusai yang mandiri dan bisa survive dalam mengarungi kehidupan ini.


Sudahkan institusi pendidikan di Indonesaia menciptakan peserta didik seperti yang cita-citakan dalam momentum awal didirikannya lebaga pendidikan ini?. Masih terlalu naif, apabila kita mengatakan bahwa lembaga pendidikan sukses untuk menyelenggarakan sistem pendidikan sebagaimana mestinya, yakni untuk memandirikan peserta didiknya. Kita lihat sendiri, begitu banyak pengangguran yang ada di negara ini, dan kalau misalnya kita coba evaluasi lebih dalam lagi, apakah mereka tidak berpendidikan? Jawabnya, hampir mayoritas pengangguran yang ada di Indonesia adalah orang-orang yeng terdidik atau bisa dikatakan mereka-mereka ini adalah manusia yang pernah mengenyam dunia pendidikan.


Bisakah kita mengatakan bahwa sistem pendidikan yang dikembangkan oleh Departemen Pendidikan selama ini gagal dalam menjalankan fungsinya? Dan apakah dunia pendidikan Indonesia sudah tidak bisa memandirikan peserta didiknya?. Tidak juga, karena di negeri ini masih ada pola pengembangan dunia pendidikan yang tidak berkiblat pada Departemen Pendidikan saja, masih ada dunia pendidikan lainnya yang sering disebut dengan dunia pesantren. Dari dunia pendidikan inilah, malahan bisa kita temui begitu banyak metode dan sisitem pendidikan yang lebih memandirikan. Dengan mencoba untuk mengembalikan manusia pada unsur-unsur alamiah mereka, yang pada dasarnya adalah makluk yang mandiri dan mampu untuk selalu survive dalam menghadapi tantangan kehidupan ini.

Memang agak ironi, bila kita melihat perkembangan dunia pesantren yang ikut serta dalam mengembangkan dunia pendidikan di negara ini, ketika kita mengetahui bahwa sumbangsih atau keberpihakan pemerintah terhadap dunia ini masih bisa di bilang minim. Apabila di bandingkan dengan sekolah-sekolah formal yang dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional.


Banyak kita lihat bahwa, jebolan-jebolan pesantren (alumni) lebih bisa survive dalam mengarungi kerasnya kehidupan ini. Agak kontras bila dibandingkan dengan jebolan sekolah formal. Memang dapat diakui, bahwa untuk mengisi kekosongna lowongan kerja memang lebih banyak di isi oleh para lulusan pendidikan formal, hal ini bisa dikatakan wajar dikarenakan bahwa mereka memang dididik untuk mengisi lowongan tersebut, akan tetapi yang jadi permasalahan lanjutnya adalah; sejauh mana lowongan kerja yang ada bisa menampung semua peserta didik yang ada? Masih banyak bagian yang belum tertampung dan hal inilah yang harus diperhatikan oleh institusi pendidikan. Peserta didik formal yang tidak tertampung, mau tidak mau harus menunggu kalau ada posisi lowongan lagi, kalau tidak ada ya..... menunggu terus dan inilah yang disebut sebagai pengangguran.


Hal ini sangat berbeda apabila dibandingkan dengan lulusan pendidikan pesantren, dari pengamatan penulis dapat di simpulkan bahwa mereka-mereka yang lulusan pondok pesantren lebih mandiri dan bisa dikatakan memiliki daya juang yang lebih bila dibandingkan dengan mereka-mereka lulusan pendidikan formal.


Memang kembali lagi, faktor keberpihakanlah yang belum diperoleh peserta didik dari dunia pesantren, selamat berjuang kawan, engkau telah mendapatkan pendidikan yang selayaknya, pendidikan yang mencerdaskan dan memerdekakan peserta didiknya dari segala belenggu keterikatan hidup...

Tuesday, March 17, 2009

Reportase Acara Kendurihani ke Sembilan

    Yang hadir pada pertemuan rutin yang diadakan pada tanggal 15 Maret 2009 ini:

    * Keluarga Kang Ni'am (Ahmad Ni'am, Siti Nuryati dan Raiyan)

    * Keluarga Kang Pardi (Supardi, Rohmah dan Isa)

    * Keluarga Kang Koko (Moh Sri Handoko, Widaryanti, Ibrahim)

    * Keluarga Kang Andre (Andre dan Putri tertuanya)

    * Keluarga Kang Basuni (Ahmad Basuni, Lathifah Nur Aini, Ida dan adik Perempuannya)

    * Keluarga Kang Imam (Imam Riyadi)

    * Keluarga Kang Lukman

    * Keluarga Kang Purhandoko

    * Keluarga Kang Wawan (fia telpon)

    * Keluarga Kang Ali Utsman

    Reportase dari forum KENDURIHANI

    1. Wirid dan doa bersama-sama dipimpin Ki Ahmad dari Jepara.

    Wirid dan doa bersama-sama dimaksudkan untuk menambah nilai spiritual dari forum ini. Selain itu, hal ini juga diperuntukkan agar kehidupan berbangsa dan bernegara kedepannya agar lebih baik dari sekarang ini.

    2. Orasi ilmiah di sampaikan Pak Wibowo (dosen WB)

    Membahas problematika kebangsaan dan solusi kedepan bagi bangsa Indonesia.

    3. Sharing ide tentang HMI Semarang dan Posisi Kendurihani.

    Pada kesempatan kali ini dan untuk kesekian kalinya, forum silaturahmi ini dipergunakan untuk memikirkan dan memberikan sumbangsih kepada adik-adik yang masih aktif di kepengurusan HMI. Mulai membahas masalah dinamika organisasi kepengurusan kemarin yang di komandani oleh sdr. Yusuf dan Amar, sampai dengan problematika perkaderan yang ada di tingkat Cabang Semarang.

    Dari hasil sharing yang ada disepakati, bahwa forum ini hanyalah forum “Paguyuban” dan bukan memposisikan sebagai forum Alumni HMI Semarang. Sehingga masih terlalu jauh apabila adik-adik kader HMI yang aktif dikepengurusan sekarang menganggap forum ini adalah forum Alumni. Kedepannya, posisi forum ini hanyalah sebatas pengamat roda keorganisasian dan hanya memberikan kontrol moral kepada adik-adik yang aktif dikepengurusan. Namun apabila ada anggota forum Kendurihani yang mau memberikan support yang lebih kepada adik-adik pengurus dipersilahkan.

    Usaha bersama.

    Organisasi akan lebih bermanfaat apabila bisa memberikan nilai kepada semua anggotanya, oleh karenanya, pada kesempatan kali ini (dan untuk yang kesekian kalinya), dirumuskan adanya usaha bersama untuk menambah nilai ekonomi bagi anggota paguyuban kendurihani. Bentuk usaha ini, berupa retailer barang-barang kebutuhan para anggota paguyuban. Kedepannya usaha retail ini akan dikomandani oleh saudara Imam Riyadi. Demikian sekilas reportase dari forum silaturahmi KENDURIHANI (msh)