Showing posts with label posted by widaryanti. Show all posts
Showing posts with label posted by widaryanti. Show all posts

Monday, May 18, 2009

Survival Company

Perusahaan yang Survive

Perusahaan sesuai dengan tujuan pendiriannya, secara umumnya, pasti diharapkan memiliki usia yang tidak terbatas. Harapan sang pendiri, pasti menginginkan perusahaan yang dia dirikan memiliki rentang usia yang panjang. Syukur-syukur bisa dialihkan kepada anak cucu, generasi berikutnya. Harapan ideal ini tidak begitu saja mudah terwujudkan apabila sang pendiri ketika menjalankan perusahaan tidak memiliki strategi yang jitu untuk mewujudkannya.

Belajar dari perusahaan-perusahaan yang sudah bisa dijadikan “benchmark” karena memiliki prestasi yang bisa jadi acuan, ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh perusahaan-perusahaan tersebut. Diantaranya adalah;

Pertama, sikap sensitif (adaptif) dalam menyesuaikan dirinya dengan lingkungan yang sedang melingkupinya. Dalam falsafah jawa, sering juga kita dengar bahwa, kita sebagai sosok manusia harus “empan papan” tahu diri, tahu kontek yang sedang melingkupi diri kita. Perusahaan juga harus menerapkan prinsip ini, sehingga perlu di ditanamkan sejak dini sikap adaptif/sensitif ini kepada siapapun yang berada dalam lingkungan perusahaan.

Kedua, adanya sikap kohesivitas, kohesivitas disini adalah gambaran adanya perasaan yang amat kuat terhadap identitas perusahaan. Semua elemen yang terhimpun dalam perusahaan memiliki komitmen yang kuat untuk mencapai tujuan dari perusahaan. Sehingga ego diri atau kelompok dalam perusahaan dikesampingkan. Sehingga tujuan mereka berhimpun dalam perusahaan semata-mata adalah untuk pencapaian tujuan perusahaan. Semangat inilah yang selalu dipupuk oleh semua insan yang ada didalam perusahaan.

Ketiga, mengembangkan sikap toleran. Maksud dari dikembangkannya sikap toleran adalah diberikannya kebebasan dari setiap insan yang ada di perusahaan untuk melakukan improvisasi, pengembangan ide, kreativitas mereka dengan harapan dengan dikembangkannya sikap seperti ini maka secara langsung akan berdampak pada kemampuan organisasi yang semakin meningkat. Sikap toleran ini dimaksudkan agar tidak adanya sentralisasi kekuasaan, dan kekuasaan tidak dipegang oleh satu orang saja.

Keempat, sikap konservatif terhadap keuangan perusahaan. Maksud dari sikap ini adalah, dikembangkannya prinsip kehati-hatian terhadap penggunaan sumber daya financial yang dimiliki oleh perusahaan. Perusahaan harus betul-betul menghitung segala resiko yang akan muncul dan harus dihadapi kedepannya, terkait dengan permasalahan keuangan. Dari sikap ini, diharapkan muncul kecermatan perusahaan dalam mengalokasikan sumber daya financialnya untuk menopang pencapaian tujuan didirikannya perusahaan ini.

Strategi bersaing perusahaan adalah masalah yang harus pertama kali dirumuskan oleh pendiri perusahaan, sebelum membentuk wadah yang bernama perusahaan. Namun perlu di perhatikan bahwa komitmen untuk melaksanakan atau mengimplementasikan strategi bersaing tersebut adalah yang lebih utama. Belajar dari Mc Donald's, banyak orang mempercayai bahwa salah satu kunci keberhasilannya adalah kemampuannya untuk merebut dan memenangkan masa depan karena adanya disiplin yang ketat dalam mengeksekusi dan mengimplementasikan strategi bersaing yang telah ditetapkannya.... (msh).

Strategic Choice

Pilihan Strategi

Sudah sering kita dengar, bahwa di dunia ini yang pasti adalah adanya perubahan. Hampir dipastikan bahwa semua yang ada didunia ini “berubah”. Berubah atau perubahan kalau dilihat dari sisi kemampuan kita untuk mengelolanya, maka bisa dibagi kedalam dua kelompok , yakni perubahan yang dapat kita prediksikan sebelumnya dan perubahan yang tidak dapat kita prediksikan kedatangannya. Dari kedua hal tersebut, muncul yang namanya “peluang” dan “resiko”. Peluang akan muncul apabila perubahan yang akan datang bisa kita prediksikan sebelumnya. Hal ini bertolak belakang dengan resiko, dimana perubahan yang akan terjadi dimasa yang akan datang, kita tidak mampu untuk memprediksikannya.

Untuk menghadapi adanya perubahan yang akan datang, perlu sekali dibuatkan pilihan-pilihan strategik sesuai dengan ranah organisasi yang kita kelola. Dalam manajemen modern, sering sekali kita dengar adanya pilihan-pilihan strategik diantaranya;

  1. Strategik Tingkat Korporat.

    Dalam tingkatan korporat, strategi ini berguna untuk memberikan gambaran arah pertumbuhan dan pengelolaan berbagai usaha untuk mencapai tujuan organisasi. Strategik korporat ini harus dijadikan sebagai acuan pokok oleh SBU dan Fungsional organisasi dalam membuat strateginya masing-masing.

  2. Strategik Tingkat SBU

    SBU atau Strategik Bisnis Unit, memiliki strategi organisasi dengan maksud untuk meningkatkan daya saing organisasi dalam satu industri yang dimasukinya.

  3. Strategik Tingkat Fungsional.

    Strategi Fungsional dibuat untuk menciptakan kerangka kerja bagi manajemen fungsional seperti Produksi, Keuangan dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, begitu kompleknya permasalahan-permasalahan yang harus dihadapi oleh perusahaan, dan begitu cepatnya perubahan-perubahan yang melingkupi perusahaan perlu adanya penanganan yang secara sistematis untuk memenangkan pertarungan antar perusahaan. Oleh karenanya sekarang muncul yang namanya manajemen strategik. Beberapa orang mendefinisikan bahwa manajemen strategik adalah pendekatan yang sistematik untuk mencapai tujuan organisasi, melalui proses perencanaan yang matang guna menyelaraskan kapabilitas internal organisasi dengan peluang dan ancaman dari lingkungan bisnis yang dimasukinya.

Proses perencanaan yang matang ini tercermin dari tahapan yang dilalui dalam penentuan dan implementasi strategik. Tahapan-tahapan tersebut antara lain;

  1. Tahap analisis dan pilihan strategik.

  2. Tahap implementasi strategik.

  3. Tahap evaluasi strategik.



Strategic Architecture

Arsitektur Strategik

Kondisi yang selalu berubah dan tantangan demi tantangan yang silih berganti menghampiri perusahaan yang harus kita kelola, sehingga membutuhkan perencanaan strategik yang jitu dan implementasi yang tepat pula. Oleh karenannya, dalam pembuatan strategi yang dibikin, kita harus melakukan tahapan-tahapan sebagaimana berikut:

Pertama, Analisa Lingkungan.


Ketika pertama kali kita mau membuat strategi, sebagai pengelola perusahaan, kita dituntut untuk mampu menilai kemampuan dari perusahaan yang kita kelola. Banyak hal yang bisa kita nilai, sebagai contoh terkait dengan kemampuan SDM yang kita miliki, kemampuan operasional perusahaan terkait dengan kemampuan fasilitas mesin yang kita miliki, kemampuan perusahaan untuk membuat produk, kemampuan perusahaan dibidang financial dan masih ada banyak hal yang harus kita ukur dari kemampuan perusahaan yang kita kelola. Hal ini sering kita sebut dengan istilah self assessment. Dari sini, kita juga dituntut untuk menilai sejauh mana kemampuan perusahaan tersebut mempengaruhi lingkungan eksternal yang mengeliling organisasi ini, dan sejauh mana juga lingkungan eksternal tersebut mampu mempengaruhi perusahaan yang kita kelola.

Lingkungan eksternal disini, sebenarnya dapat kita pecah kedalam dua kategori yakni Lingkungan Eksternal Makro dan Lingkungan Eksternal Mikro. Secara sederhana, pembeda dari kedua lingkungan ini adalah, sejauh mana keterkaitan permasalahan eksternal tadi mempengaruhi kemampuan perusahaan yang kita kelola, apabila pola keterkaitannya secara langsung, maka bisa kita kategorikan lingkungan mikro, sebagai contoh adalah pelanggan, pemasok, pesaing, produk substitusi, dan lain sebagainya yang sejenis. Sedangkan untuk lingkungan eksternal makro dapat kita ambil contoh adalah kondisi luar perusahaan seperti “Ipoleksosbudhankam” yakni Ideologi, Politik, Sosial, Budaya, Pertahanan dan Keamanan. Atau bisa juga permasalahan-permasalahan lainnya, yang keterkaitannya dengan perusahaan kita tidak secara langsung.

Menurut Porter, dalam melakukan analisa, sebenarnya kita bisa melihat beberapa hal berikut ini, untuk menilai kemampuan dan posisi dari perusahaan yang sedang kita kelola, diantaranya adalah:

  1. Daya tawar dari konsumen kita.

    Semakin unik produk yang kita buat, semakin butuh konsumen dengan produk kita dan tidak adanya pilihan produk lain, selain produk buatan kita, maka jelas bahwa daya tawar kita dihadapan konsumen adalah tinggi. Begitu juga sebaliknya. Untuk memenangkan persaingan, idealnya kita memiliki daya tawar yang besar dihadapan konsumen kita.

  2. Daya tawar dari pemasok kita.

    Semakin banyak pemasok, semakin mudah kita mendapatkan material / mesin / sparepart yang kita butuhkan untuk menunjang aktivitas produksi perusahaan kita, maka perusahaan kita memiliki daya tawar yang besar dihadapan pemasok-pemasok perusahaan. Kondisi seperti inilah yang seharusnya bisa kita ciptakan untuk menunjang kemampuan perusahaan yang kita kelola untuk mampu memenangkan persaingan.

  3. Produk pengganti.

    Harapan kita, sebagai produsen apakah produk maupun jasa yang kita hasilkan tidak ada yang bisa menggantikan atau digantikan oleh produk/jasa lainnya baik yang sejenis maupun berbeda, sehingga produk/jasa yang kita buat benar-benar merupakan unik yang dicari oleh pelanggan-pelanggan kita.

  4. Halangan untuk memasuki industri.

    Hal ini biasa terjadi apabila industri yang kita tekuni tergolong jenis industri monopoli atau monopsoni. Halangan untuk memasuki industri yang kita geluti bisa berasal dari regulasi yang dibuat oleh pemerintah atau asosiasi dari jenis industri itu sendiri. Ada banyak hal yang bisa di lakukan oleh kita untuk melakukan penahanan masuknya industri baru di bidang yang kita lakukan, semisal dengan melakukan strategi penanganan material industri atau bahkan penanganan masalah pemasaran produk, sehingga industri yang baru mau masuk harus berpikir-pikir ulang untuk memasukinya.

  5. Persaingan sesama industri sejenis.

    Persaingan sesama industri sejenis inilah yang seharusnya kita hindari, daripada melakukan persaingan sesama, lebih baik melakukan aliansi strategis untuk mengembangkan usaha sejenis. Sehingga kedepannya, energi yang diperlukan oleh perusahaan bisa dikatakan lebih sedikit. Namun hal ini juga harus disesuaikan dengan regulasi yang dibuat oleh pemerintah, apakah hal ini diperbolehkan atau sebaliknya. Karena perlu dicermati, bahwa dengan dibentuknya aliansi-aliansi tersebut, akan menyuburkan adanya bentuk kartel dalam industri atau bahkan yang lebih mengerikan adalah monopoli.

Kedua, Menentukan dan Menetapkan Arah Perusahaan.

Pada tahapan ini, organisasi perlu membentuk Visi dan Misi yang ingin dicapai oleh perusahaan. Visi dan misi ini merupakan tujuan dari didirikannya perusahaan, oleh karenanya tujuan dari organisasi harus merefleksikan target yang akan dicapai oleh organisasi tersebut dalam rentang waktu tertentu.

Ketiga, Formulasi Strategik.

Merupakan proses untuk merancang, menyeleksi dan memilih strategi yang lebih tepat untuk diterapkan dari serangkaian strategi yang disusun guna mencapai tujuan organisasi.

Keempat, Implementasi Strategik.

Didalam implementasi strategik, aktivitas utamanya antara lain;

a. Merencanakan dan mengalokasi sumber daya.

b. Membangun struktur dan desain organisasi.

c. Mengelola perubahan strategik.

Kelima, Evaluasi Strategik.

Merupakan proses pemantauan dan pengevaluasian implementasi strategi yang sudah diformulasikan sebelumnya guna memastikan organisasi berada dijalur yang benar.

Ada tiga kriteria yang dapat digunakan antara lain:

  1. Kecocokan (suitability) dengan kondisi lingkungan yang ada.

  2. Kelayakan (feasibility) dengan artian bahwa strategi tersebut dapat diimplementasikan dengan sukses.

  3. Dapat diterima (acceptability) terkait dengan kinerja financial maupun non financial.




Monday, May 4, 2009

MENGUKUR KINERJA PERUSAHAAN

ETISKAH MENILAI KINERJA PERUSAHAAN

HANYA DARI LABA?

Sebagai organisasi yang mengejar keuntungan, perusahaan dituntut untuk memperoleh laba atau keuntungan yang maksimal. Oleh karenanya, nilai suatu perusahaan akan tinggi apabila dia mampu menghasilkan laba yang besar, dimana hal ini biasanya dinilai dari harga perlembar sahamnya; bagi perusahaan yang sudah go public, sedangkan untuk perusahaan yang tidak go public biasanya akan dicari-cari para kreditur untuk diberikan kredit untuk mengembangkan usaha perusahaan.

Di era krisis ekonomi global seperti sekarang ini, profit adalah barang yang sangat langka sekali. Bisa tetap hidup saja bagi perusahaan adalah anugerah terindah. Tidak ada PHK, gaji karyawan naik tiap tahunnya, kesejahteraan karyawan tidak berkurang namun bertambah, adalah hal yang sangat di dambakan perusahaan-perusahaan sekarang ini.

Hukum keseimbangan alam selalu benar dan jujur apa adanya, disatu sisi ada yang dirugikan dalam kondisi sekarang ini, disisi lain pasti ada yang diuntungkan. Oleh karenanya, jangan heran kalau ada perusahaan yang bergerak dalam bidang yang sama ada yang mengalami kerugian bahkan gulung tikar (bankrut), namun di sisi lain ada juga perusahaan yang bergerak pada bidang yang sama malah melakukan ekspansi (perluasan) usaha. Dan inilah bukti dari hukum keseimbangan alam semesta itu. Yang jadi renungan bersama, apakah etis ketika kita hanya menilai suatu perusahaan hanya pada sisi keuntungan (profit) saja? Dengan mengabaikan berbagai macam hal yang melingkupi aktivitas kinerja perusahaan.

Sekarang ini, penulis melakukan penelitian pada beberapa perusahaan yang bergerak pada bidang yang sama (manufaktur) dengan produk yang bisa dikatakan antara satu perusahaan dengan perusahaan yang lainnya sama. Namun yang jadi bahan renungan bersama, kenapa perusahaan yang besar ini, yang dulunya adalah kebanggaan dari masyarakat termasuk bangsa ini dikarenakan sumbangsihnya yang luar biasa pada perekonomian negeri ini, jadi “berantakan”. Dan bahkan, sekarang perusahaan yang dulu para pekerjanya sering di “bajak” oleh perusahaan besar ini malah tetap eksis bahkan berkembang dengan melakukan perluasan usahanya di tengah deraan krisis ekonomi global.

Ada beberapa hal yang bisa kita bandingkan antara perusahaan besar yang sekarang lagi kolaps ini dengan partner nya yang malahan sekarang berkembang, perbedaannya itu antara lain:

Operasional perusahaan.

Perusahan besar ini bisa dikatakan terlalu dimanjakan dengan kondisi masa lalu yang selalu berpihak kepadanya, sehingga kinerjanya bisa dikatakan asal-asalan saja ketika menjalankan operasionalnya tidak masalah, dan tetap saja laku produknya. Karena pada waktu itu, mendapatkan fasilitas kuota yang besar dibandingkan dengan perusahaanp-perusahaan sejenis yang lainnya. Hal ini sangat berbeda dengan perusahaan yang sekarang baru melakukan ekspansi usahanya. Tata operasional dan budaya kerja yang dilakukan adalah budaya dalam kondisi krisis, dia selalu menaikkan tingkat kinerja organisasi dan memperbaiki terus budaya kerjanya sehingga lebih efisien dan efektif. Sebagai misal, kalau kita umpamakan pada masa perjuangan dulu, kondisi bangsa ini dalam keadaan krisis. Maka segala upaya akan diusahakan, agar tujuan kemerdekaan tercapai. Bahkan kalaupun untuk mencapai kemerdekaan itu kita harus berkorban nyama, maka rakyat akan mempersilahkan dan dengan suka rela akan melaksanakannya. Sangat berbeda saat ini, dimana banyak orang ingin hidup enak, namun enggan melakukan kerja dengan keras. Dan seperti itulah kalau kita umpamakan kinerja operasional dan budaya yang dibentuk oleh kedua perusahaan tersebut, sangat bertolak belakang. Untuk kasus yang satu ini, perusahaan yang sedang melakukan ekspansi bisa dijadikan benchmark yang baik untuk membentuk budaya dan kinerja operasional organisasi.

Pertanggung jawaban sosial / moral.

Perusahaan besar tadi melakukan aksi sosial yang begitu besar kepada masyarakat sekitar, tidak hanya memberikan beasiswa kepada para anak sekolah di sekitar lingkungan pabrik, memberikan bantuan dana ketika dibutuhkan untuk kepentingan kampung sekitar, sampai dengan tanggung jawab moral berupa penanganan limbah industrinya juga dilaksanakan. Banyak biaya-biaya CSR disediakan karena ini memang merupakan tanggung jawab moralnya sebagai perusahaan kepada steakholdernya. Tidak terkecuali, kesejahteraan kepada para karyawannya juga sangat diperhatikan. Tidak hanya ikut program Jamsostek, perusahaan juga memberikan asuransi Jasindo, Asuransi Kesehatan juga ada. Banyak fasilitas yang diberikan kepada steakholder perusahaan. Hal ini sangat berbeda dengan perusahaan sejenis yang baru melakukan ekspansi usaha. Untuk masalah kesejahteraan ke karyawan sangatlah minim, apalagi kepada kepada masyarakat sekitarnya. Penanganan limbahnya juga tidak sebagus perusahaan besar tadi, sering terjadi pencemaran lingkungan karena pembuangan limbah yang seenaknya oleh perusahaan tadi. Tapi yang jadi ironi, para masyarakat sekitar tidak berani melakukan langkah protes kepada perusahaan karena semua sudah pada tahu bahwa perusahaan memiliki “security bersenjata” yang di segani oleh lingkungan sekitar.

Dari penjelasan singkat diatas, apakah layak kita hanya menilai keberhasilan atau kejayaan perusahaan hanya di lihat dari aspek profitabilitas (kemampuan menghasilkan laba), atau keberhasilannya untuk melakukan ekspansi (perluasan usaha) saja. Kalau menurut hemat penulis, bahwa keberhasilan sebuah perusahaan, kejayaan sebuah perusahaan bisa dilihat pada semakin bertambah nilai yang diberikan perusahaan kepada para steak holdernya. Lebih terkhusus lagi permasalahan yang terkait dengan kesejahteraannya.

Jangan hanya melihat kemampuannya saja untuk menghasilkan laba, namun juga lihat kemampuannya untuk meningkatkan kesejahteraan kepada pihak-pihak yang terkait dengan perusahaan.






Wednesday, April 15, 2009

Politik, Politikus dan Parlemen KITA

POLITIKUS dan PARLEMEN SEJATI

Dalam sejarah perkembangan berbangsa dan bernegara ini, sudah tertoreh dalam lembaran sejarah, bahwa di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia, pernah mengalami masa dimana sesama anak bangsa di “adu domba” untuk kepentingan para penjajah. Menurut sejarah modern, dan yang sering kita dengar, bahwa negara ini pernah di jajah oleh negara asing semisal Portugis, Belanda, Jepang dan lainnya, minimal kalau dihitung dengan rentang waktu adalah 3,5 abad (tiga ratus lima puluh tahun). Waktu yang tidak sebentar dalam rentang masa kehidupan generasi manusia. Suatu yang sangat ironi bahwa, para penjajah kalau dilihat secara geografis, tidak memiliki luas wilayah lebih besar dari sepertiga luas negara Indonesia.

Dari fakta sejarah tersebut, apa yang bisa kita ambil pelajaran untuk memajukan bangsa dan negara tercinta ini? Karena penjajahan akan selalu terus dihidupkan. Perkembangan modus penjajahan di era modern ini sangat halus, tidak seperti jaman dahulu, dimana penjajahan dilakukan dengan melakukan pendudukan secara fisik di suatu wilayah geografis tertentu, dan rakyatnya dijadikan budak untuk memuaskan nafsu sang penjajah. Akan tetapi penjajahan modern ini sudah mulai dengan dibuatkannnya aturan-aturan gaya baru (kode etik) yang mengatas namakan masyarakat dunia, dengan pembuatan standar-standar ganda untuk kepentingan negara-negara neokolonialis. Coba kita rasakan, isu tentang HAM, Demokratisasi, isu lingkungan, standar mutu, dan masih ada banyak-banyak standar dengan aneka macam warnanya. Yang agenda utamanya jelas, bahwa mereka tetap ingin melakukan penjajahan kepada negara-negara yang secara de fakto dulu pernah mereka jajah secara fisik.

Sebagai negara yang “merdeka”, kita harus benar-benar menjaga anugerah ini. Jangan sampai terlena dengan kamuflase yang dibuat oleh neokolonialis. Makanya kita harus menjadi negara yang kuat, negara yang mandiri dari segenap aspek kehidupan bernegara. Negara yang memiliki relasi yang luas, dimana hubungan antar negara ini dilandasi oleh semangat kesetaraan dan saling pengertian, bukannya hubungan yang saling menelikung apabila ada kesempatan. Oleh karenanya, kita harus merombak dan sekaligus membuat tata aturan yang membuat negara ini benar-benar merdeka. Merdeka yang sesungguhnya, bukan merdeka yang semu. Oleh karenanya, kita harus menguatkan parlemen kita, karena dari sinilah pangkal ujung permasalahan itu bermuara. Karena dari lembaga inilah, landasan hukum atau aturan main untuk menata kehidupan bernegara ini dimulai.

Kita harus membersihkan parlemen kita ini dari para politikus-politikus busuk, yang hanya mementingkan diri pribadi atau kelompoknya saja, dengan mengesampingkan kejayaan dan kemakmuran negara tercinta ini. Jangan mau dihasut, dan jangan mau lagi diadu domba. Karena seperti yang dipaparkan di atas, bahwa salah satu ciri penjajahan di era modern adalah dengan melakukan politik adu domba, dan sekarang kalau kita lihat dengan seksama bahwa kenyataan dan kemungkinan untuk di adudomba begitu terbuka. Coba lihat para politikus kita, mereka hanya mementingkan kepentingan diri dan kelompoknya saja, saling menjegal untuk menjadi penguasa dengan segala cara. Dan yang tak kalah mengerikan, bahwa mereka juga menggunakan bantuan (apakah di sengaja atau tidak) negara-negara asing yang tentunya merekalah yang akan menjadi kolonialis-kolonialis baru di jaman modern ini.

Dengan memlih para politikus yang teruji rasa nasionalismenya, harapan kita bersama bahwa produk perundang-undangan yang dibuat akan menjadikan negara ini merdeka dan mencapai puncak kejayaannya. Tidak ada lagi produk perundang-undangan yang menciptakan penjajahan dengan modus yang baru, semisal menguasai sumber daya alam yang melimpah oleh pihak asing (neokolonialis) dan hanya membagi dengan proporsi yang sangat-sangat kecil untuk negara kita. Tidak hanya produk perundang-undangan tentang penguasaan sumber daya alam, tata kelola sumber daya manusia dan semua hal yang menyangkut tata kelola berbangsa dan bernegara ini juga harus di perhatikan, jadi disini bahwa harapan kita akan terciptanya produk perundang-undangan yang memihak kepada kepentingan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia adalah sebuah kebutuhan, dan tentunya hal ini bisa tercapai apabila parlemen kita diisi oleh orang-orang yang memiliki integritas yang tinggi dan memiliki semangat nasionalisme, demi kejayaan negara tercinta ini. Indonesia yang merdeka adalah tujuan kita bersama. Mari kita awasi pengelolaan negara ini, dan kita tetap meletakkan kepentingan berbangsa dan bernegara ini diatas kepentingan pribadi atau kelompok kita. Jangan kita gadaikan bangsa ini dengan nilai yang murahan dengan kekuasaan yang semu. Hiduplah bangsaku, merdekalah negeriku, kejayaan dan kemakmuran menyertaimu... Indonesia.

Indonesia Raya adalah sebuah cita-cita luhur dan sebuah keniscayaan dalam hidup ini.


Pemuda dan Masa Depan Bangsa

MASA DEPAN BANGSA BISA DILIHAT DARI PEMUDANYA SEKARANG

“Beri aku sepuluh pemuda, maka aku merdekakan negeri ini dari para penjajah” kata Soekarno dan “Bapa di surga, beri hambamu ini 12 Murid, maka akan aku selamatkan manusia dari derita dan kehinaan” kata Yesus Kristus.

Kalimat yang sangat luar biasa, yang dapat menginspirasi diri ini untuk laku prihatin membuat perubahan-perubahan yang sangat mendasar dalam kehidupan ini. Perlu di camkan, bahwa yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan yang sangat mendasar didunia ini tidak memerlukan banyak orang, hanya segelintir orang yang tentunya dari golongan pemuda. Ada entry point, yang bisa didiskusikan disini yakni beberapa orang dan pemuda.

Segelintir manusia, yang tahu akan keadaan sekarang, yang memahami bahwa kondisi saat ini bila dibiarkan terus menerus akan berdampak buruk kedepanlah yang bisa melakukan perubahan yang radikal untuk tatanan masyarakat yang lebih baik. Disini diperlukan wahana untuk saling melakukan pengembangan diskursus atau wacana, karena dari diskusi awal inilah saling memahami dan mendukung gerakan akan terjadi dengan sendirinya. Segelintir orang ini perlu melakukan kajian kajian rutin yang mendasar untuk memformulasikan pola perubahan apa yang dibutuhkan dimasyarakat saat ini . Oleh karenannya, bisa kita tengok dalam sejarah perkembangan peradaban, bahwa dunia ini harus berterima kasih kepada orang-orang yang “nyleneh” yang tentunya jumlahnya sedikit, yang mana mereka mau untuk menjadi mainstream bahkan dengan menjadi martir untuk perubahan ini. Makan perlu digaris bawahi, bahwa pertemuan-pertemuan rutin yang dilakukan oleh “manusia-manusia nyleneh” harus perlu dipupuk. Agar kehidupan ini menjadi lebih dinamis dan tentunya akan membawa pada perubahan yang memang kita inginkan.

Kedua adalah pemuda, pemuda adalah harapan semesta, tentunya disini definisi pemuda tidak hanya dilihat dari sudut pandang rentang usia, namun pemuda disini adalah sosok manusia yang memiliki semangat yang luar biasa untuk melakukan upaya-upaya perubahan bagi masyarakatnya. Ciri yang sangat mudah kita temui dari sosok pemuda adalah, sikap optimismenya. Hal ini sangat berbeda dengan orang-orang tua, pemuda masih memiliki waktu untuk bisa mewujudkan cita-cita yang ada dalam benaknya. Masih ada rentang waktu untuk mewujudkan program tersebut. Hal ini sangat berbeda dengan para golongan tua yang sudah tidak memiliki kesempatan waktu dan fisik yang prima untuk mewujudkan cita-citanya, makanya kecenderungan yang ada pada golongan tua adalah bersikap pragmatis dalam menghadapi kenyataan hidup ini. Bukannya untuk berani melakukan perubahan akan tetapi lebih memilih untuk bersikap nyaman dalam memandang kehidupan ini. Akan tetapi yang perlu digaris bawahi, bahwa sebenarnya pemuda disini adalah konotasi, sebuah perumpamaan yang di lekatkan kepada semua orang, siapapun dia yang penting memiliki semangat optimis, progresif untuk melakukan perubahan, dan memberikan warna yang berbeda dalam kehidupan ini. Banggalah menjadi sosok minoritas (sedikit), yang memiliki sifat para pemuda idealis.


Thursday, March 19, 2009

PENDIDIKAN YANG MEMANDIRIKAN

Semua makhluk hidup pasti secara alamiah di ciptakan Tuhan secara mandiri, dalam semua hal. Cobalah lihat saudara-saudari kita makhluk Tuhan yang lainnya apakah itu binatang maupun tanaman. Mereka semua diciptakan dalam keadaan yang mandiri karena dalam kehidupan yang dibutuhkan oleh makhluk Tuhan adalah mandiri untuk melangsungkan hidup dan berjuang untuuk tetap hidup dalam kondisi apapun.

Oleh karenanya, makhluk hidup yang namanya manusia menciptakan sistem pendidikan yang tujuannya adalah untuk mendidik manusia untuk siap dan selalu mandiri dalam menghadapi tantangan kehidupan. Sistem pendidikan yang baik adalah sistem pendidikan yang membebaskan peserta didiknya dari segala hal yang membuatnya dia terikat, dia harus bebas dan benar-benar merdeka.


Berbicara soal pendidikan, di bangsa dan negara Indonesia sendiri di bentuklah Departemen Pendidikan Nasional; suatu departemen ditingkat pemerintahan pusat negara ini untuk menjalankna peran sebagai institusi resmi yang bertanggung jawab terhadap kebutuhan pendidikan di negara ini. Oleh karenanya, dunia pendidikan yang lebih lazimnya disebut sekolahan di negara ini mulai dibentuk ditingkat dasar sampai dengan Perguruan tinggi, harapan dibentuknya lembaga pendidikan ini adalah kembali kepada fungsi awal diadakannya lembaga ini yakni, untuk menciptakan manusia-manusai yang mandiri dan bisa survive dalam mengarungi kehidupan ini.


Sudahkan institusi pendidikan di Indonesaia menciptakan peserta didik seperti yang cita-citakan dalam momentum awal didirikannya lebaga pendidikan ini?. Masih terlalu naif, apabila kita mengatakan bahwa lembaga pendidikan sukses untuk menyelenggarakan sistem pendidikan sebagaimana mestinya, yakni untuk memandirikan peserta didiknya. Kita lihat sendiri, begitu banyak pengangguran yang ada di negara ini, dan kalau misalnya kita coba evaluasi lebih dalam lagi, apakah mereka tidak berpendidikan? Jawabnya, hampir mayoritas pengangguran yang ada di Indonesia adalah orang-orang yeng terdidik atau bisa dikatakan mereka-mereka ini adalah manusia yang pernah mengenyam dunia pendidikan.


Bisakah kita mengatakan bahwa sistem pendidikan yang dikembangkan oleh Departemen Pendidikan selama ini gagal dalam menjalankan fungsinya? Dan apakah dunia pendidikan Indonesia sudah tidak bisa memandirikan peserta didiknya?. Tidak juga, karena di negeri ini masih ada pola pengembangan dunia pendidikan yang tidak berkiblat pada Departemen Pendidikan saja, masih ada dunia pendidikan lainnya yang sering disebut dengan dunia pesantren. Dari dunia pendidikan inilah, malahan bisa kita temui begitu banyak metode dan sisitem pendidikan yang lebih memandirikan. Dengan mencoba untuk mengembalikan manusia pada unsur-unsur alamiah mereka, yang pada dasarnya adalah makluk yang mandiri dan mampu untuk selalu survive dalam menghadapi tantangan kehidupan ini.

Memang agak ironi, bila kita melihat perkembangan dunia pesantren yang ikut serta dalam mengembangkan dunia pendidikan di negara ini, ketika kita mengetahui bahwa sumbangsih atau keberpihakan pemerintah terhadap dunia ini masih bisa di bilang minim. Apabila di bandingkan dengan sekolah-sekolah formal yang dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional.


Banyak kita lihat bahwa, jebolan-jebolan pesantren (alumni) lebih bisa survive dalam mengarungi kerasnya kehidupan ini. Agak kontras bila dibandingkan dengan jebolan sekolah formal. Memang dapat diakui, bahwa untuk mengisi kekosongna lowongan kerja memang lebih banyak di isi oleh para lulusan pendidikan formal, hal ini bisa dikatakan wajar dikarenakan bahwa mereka memang dididik untuk mengisi lowongan tersebut, akan tetapi yang jadi permasalahan lanjutnya adalah; sejauh mana lowongan kerja yang ada bisa menampung semua peserta didik yang ada? Masih banyak bagian yang belum tertampung dan hal inilah yang harus diperhatikan oleh institusi pendidikan. Peserta didik formal yang tidak tertampung, mau tidak mau harus menunggu kalau ada posisi lowongan lagi, kalau tidak ada ya..... menunggu terus dan inilah yang disebut sebagai pengangguran.


Hal ini sangat berbeda apabila dibandingkan dengan lulusan pendidikan pesantren, dari pengamatan penulis dapat di simpulkan bahwa mereka-mereka yang lulusan pondok pesantren lebih mandiri dan bisa dikatakan memiliki daya juang yang lebih bila dibandingkan dengan mereka-mereka lulusan pendidikan formal.


Memang kembali lagi, faktor keberpihakanlah yang belum diperoleh peserta didik dari dunia pesantren, selamat berjuang kawan, engkau telah mendapatkan pendidikan yang selayaknya, pendidikan yang mencerdaskan dan memerdekakan peserta didiknya dari segala belenggu keterikatan hidup...